Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Desember 2013

                                         proposal usaha budidaya ikan patin


                               


I.                   PENDAHULUAN 
Ikan patin (pangasius sp.) yang terdapat di Indosia terdapat 14 spesies,namum tetap saja pangasianodon hypopthalmus yang berasal dari Thailand merupakan satu-satunya yang dibudidayakan di Indonesia   Dalam rangka memanfaatkan keanekaragaman hayati ikan air tawar Indonesia,khususnya potensi spesies ikan patin lokal untuk budidaya, sejak tahun 1996 telah dilakukan penelitian kerja sama dengan Uni Eropa. dimana spesies ikan patin ini, pangasius djambal bleker, 1846 telah menjadi calon komoditi budidaya baru karna potensi ukurannya yang besar ( bisa mencapai lebih dari 20 kg/ekor ). Penyebaran geografisnya yang luas serta popularitasnya diantara konsumen jenis ini di Sumatra dan pulau-pulau lain di Indonesia. Evaluasi budidaya secara teknis menunjukan banyak keunggulan yang bernilai lebih bagi aquaculture. Sedangkan sosialisasi pembudidayaan jenis ini telah dilakukan pada tahun 1997. 

Dewasa ini apabila diperhatikan sudah banyak restoran yang menyajikan menu makanan utama berupa ikan patin bakar/goreng. Untuk memenuhi kebutuhan pasokan ikan tersebut tidak dapat hanya dipenuhi dari hasil tangkapan diperairan umum, sehingga perlu adanya pembudidayaan secara lebih intensif.Apabila ditinjau dari aspek pembudidayaan, teknologi budidaya ikan patin relatif telah dikuasai. Ketersediaan benih yang semula dianggap sebagai kendal, namun sekarang telah banyak pembenih baik perorangan maupun perusahaan yang berhasil memproduksi benih ikan patin.

  Beberapa keunggulan komparatif budidaya ikan patin adalah bahwa ikan patin ukuran indifidunya cukup besar, pemakan segalanya dan dapat bertoleransi terhadap kondisi perairan yang kurang menguntungkan karena kondosi oksigen (02) terlarut relatif lebih rendah serta dapat beroleransi PH air lingkungan yang ber pH 3-4. Demikian juga ikan patin mau mengkonsumsi makanan buatan atau pakan yang beredar di pasaran sebagai makanannya.

II.PENGENALAN JENISA.
Sistematika dan Klasifikasi   Ikan patin (pengasius Sp.) termasuk family pengasidae, yaitu jenis ikan yang memiliki lubang mulut kecil berpinggiran bola mata yang bebas, sirip punggung tambahan sangat kecil dan bersungut di hidung.  Sesuai dengan klasifikasi, ikan patin jambal adalah sebagai berikut ;
 Phylum
 :
 Chordata
 Sub Phylum
 :
 vetebrata
 Super Class
 :
 Pisces
 Class 
 :
 Ostechtyes
 Sub Class
 :
 Actinophysi
 Marga  
 :
 Pangasius
 Jenis
 :
  pangasius hypoptermus


B.Habitat dan Tingkah Laku  Ikan patin
habitatnya di alam, hidup di perairan umum seperti di Kalimantan dan Sumatra Selatan.Jenis ikan ini termasuk ikan dasar dan biasanya banyak melakukan aktifitas di malam hari.Kebiasaan ikan ini suka bergelombol.Nafsu makan ikan akan terangsang (akan bertambah) apabila ikan-ikan tersebut bergelombol.  Ikan patin biasanya memijah pada musim penghujan yang biasanya jatuh pada bulan november s/d maret. C.Kebiasaan  Makan dan makannya  Ikan patin berdasarkan kebiasaan makannya termasuk ikan pemakan segala (Omnivora) dan secara alama makannya terdiri dari serangga, biji-bijian, ikan rucah, udang-udangan dan moluska. III.SUMBER AIR  Sumber air untuk pemeliharaan ikan patin di kolam dapat di peroleh dari alam misalnya sungai, sumber bor dan air hujan, yang pasti air nya layak untuk kehidupan pembesaran. 
Beberapa parameter kualitas air yang di perlukan untuk pembudidayaan ikan patin adalah:

No
PARAMETER
KANDUNGAN
1
Oksigen (O2)
3-6 ppm
2
Karbondioksida (C02)
9-20 ppm
3
pH
5-9
4
Alkalinitas
80-250
5
Suhu
28-30oc


 Sumber : Prosiding Seminar Hasil Penelitian Perikanan Air Tawar 1993 

IV. BAHAN DAN SARANAA.

Konstruksi Kolam  Ukuran kolam yang diperlukan untuk pembesaran ikan patin tergantung dari luas lahan yang tersedia. Demikian juga konstruksi kolam dapat terbuat dari tanah maupun dari konstruksi beton tergantung pemodalan yang ada. Namun pada tanah yang porous sebaiknya di buat kolam dengan konstruksi tembok. Berdasarkan pengalaman para pebudidaya, bentuk ideal untuk kolam pemeliharaan ikan patin berupa kolam tanah adalah empat persegi panjang dengan ukuran luas lebih besar dari 50 M2. Kedalaman kolam berkisar antara 0,5 - 1,5 m. Kemiringan dasar kolam dari permukaan kepembuangan 0,5%, tinngi pematang 1-1,5 M.   Pada bagian tengah dasar kolam dibuat parit/kemalir yang memanjang dari arah pemasukan air kearah pengeluaran air ( monik). Ukuran parit memiliki lebar 30-50 cm dengan kedalaman 10-15 cm. Sebagaimana pada pemeliharaan ikan nila dan emas, maka kolam pemeliharaan ikan patin juga memerlukan pintu pemasukan dan pengeluaran air yang bentuk dan spesifikasinya kurang lebih sama. Untuk kolam yang sederhana pintu pemasukan dan pengeluaran air bahan nya terbuat dari bambu atau paralon. Pada pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasangi saringan yang terbuat dari kawat atau anyaman bambu untuk mencegah agar ikan tidak lolos.   Untuk kolam yang lebih intensif, sebaiknya pintu pengeluaran air dibuat dengan sistem siphon atau monik dengan maksud agar air yang keluar dari kolam adalah air yang berasal dari bagian dasar kolam, yakni air yang mengandung sisa pakan, kotoran ikan dan air kotor. 

B. Sarana  Jenis-jenis sarana budidaya yang diperlukan pada pembudidayaan ikan patin adalah : 
a. kapur
kapur diperlukan untuk memberantas hama dan penyakit yang adapada kolan.Kapur dapatjuga menaikkan pH air kolam. Banyak nya kapur yang di berikan pada kolam tergantung pada keadaan kolam, biasanya berkisar antara 20-100 gram/m2.
 b. Pupuk
pupuk di perlukan untuk mempercepat pertambahan makan alami di dalam kolam.Pupuk yang di perlukan/dipergunanakan adalah pupuk TSP sebanyak 22-25 gram/m2
c. Benih
pada pembesaran ikan patin, padat penebaran benih ikan patin dapat bervariasi berkisar antara 8-15 ekor permeter persegi dengan ukuran 3-6 inci per ekor atau 40-50 gram per ekor.
d. Pakan
makanan tambahan yang di berikan dapat berupa pellet (buatan pabrik) dengan kandungan protein berkisar 20-30 persen, atau pakan buatan sendiri bahan bakunya dari dedak 25 %, menir 50 %, tepung ikan 25 % (1:2:1).
Jumlah makanan tambahan di berikan 2-3 persen dari berat total ikan per hari. Frekuensi pemberian makanan 2 (dua) kali sehari yaitu pagi hari dan sore hari.



 V. TEKNIK PEMBUDIDAYAAN

 A.Persiapan kolam  Pada persiapan kolam dilakukan antara lain        
  Pengolahan tanah dasar kolam meliputi pencankulan/pembajakan tanah dasar kolam    dan meratakannya. Pematan kolam diperbaiki, menutupi bagian-bagian kolam yang bocor.

· Memperbaiki parit/kemalir dan kubangan untuk tempat persiapan pemanenan.
· Penaburan kapur pertanian dengan dosis antara 20-200 gram/meter persegi   (tergantung keadaan kolam). Untuk kolam yang pH-nya rendah pemakaian kapur akan lebih banyak, juga sebaliknya. Tanah yang pH-nya sudah cukup baik pemberian kapur sekedar untuk membasmi hamadan penyakit yang mungkin ada di kolam.


·  Pemasangan saringan pada pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air untuk mencegah  agar ikan tidak lolos/keluar.
· Pengisian air dengan ketinggian 1-1,5 meter biarkan selama 1 (satu) minggu.
· Satu minggu setelah pengisian air, kemudian dilakukan pemupukan dengan TSP sebanyak 22 gram/meter persegi.·  Satu minggu kemudian dilakukan penebaran benih.

B. Penebaran Benih  Benih yang di besarkan di kolam sebaiknya berukuran  seragam 40-50 gram/ekor dengn padat penebaran 8-15 ekor/m2.

C. Pemberian Pakan  Pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan adalah 2-3% dari berat total ikan perhari. Frekuensi pemberian pakan 2 (dua) kali sehari dengan waktu pemberian pagi dan sore hari.

D. Pencegahan Hama dan Penyakit   Untuk pencegahan hama dan penyakit sebaiknya benih ikan patin jambal yang akan ditebar dicucihamakan terlebih dulu dengan KMn04 atau PK ( Kalium Permanganat) dengan dosis 35 gram/m3 selama 24 jam atau dengan formalin dosis 25ppm selama 5-10 menit. 

VI. PANEN 

Masa pemeliharaan ikan patin jambal dapat berfariasi tergantung dari ukuran awal benih yang ditebar dan berat ikan yang diinginkan serta permintaan pasar.  Pengalaman pembudidayaan ikan menunjukkan untuk mencapai ukuran berat 1 (satu) kg/ekor dengan berat awal tebar 50 gram/ekor memerlukan waktu selama 7-12 bulan.  Pemanenan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu pemanenan secara bertahap dan total. Pada pemanenan bertahap dilakukan dengan cara menyurutkan air sedikit demi sedikit lalu memilih ikan-ikan yang siap untuk dipanen dan dapat di gunakan dengan jala. Setelah selesai pemanena lalu air di isikan kembali seperti semula. Sedangkan pada pemanenan total dilakukan dengan cara pengeringan kolam sehingga ikan mengumpul pada parit dan kubangan dengan demikian dengan mudah ditangkap menggunakan serok atau jaring. 

Kamis, 05 Desember 2013



1.PENDAHULUAN

Prospek budidaya tanaman terong makin baik untuk dikelola secara intensif dan komersial dalam skala agribisnis, namun hasil rata-ratanya masih rendah. Hal ini disebabkan bentuk kultur budidaya yang masih sampingan, belum memadainya informasi teknik budidaya di tingkat petani.


Kami berusaha memberi alternatife solusi bagaimana teknik budidaya terong sehingga tercapai peningkatan produksi secara K-3, yaitu Kuantitas, Kualitas dan Kelestarian lingkungan.



2.SYARAT TUMBUH

- Dapat tumbuh di dataran rendah tinggi

- Suhu udara 22 - 30o C

- Jenis tanah yang paling baik, jenis lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, aerasi dan drainase baik dan pH antara 6,8-7,3

- Sinar matahari harus cukup

- Cocok ditanam musim kemarau




3.PEMBIBITAN

- Rendamlah benih dalam air hangat kuku + Insektisida berbahan aktif Fipronil dengan kosentrasi 2 cc per liter selama 10 -15 menit

- Bungkuslah benih dalam gulungan kain basah untuk diperam selama + 24 jam hingga nampak mulai berkecambah

- Sebarkan benih di atas bedengan persemaian menurut barisan, jarak antar barisan 10-15 cm

- kemudian masukkan benih satu persatu ke polibag yang telah berisi campuran tanah dan pupuk kandang .
- Tutup benih tersebut dengan tanah tipis

- Permukaan bedengan yang telah disemai benih ditutup dengan daun pisang/Jerami kering

- Setelah benih tampak berkecambah muncul, buka penutupnya

- Siram persemaian pagi dan sore hari

- Bibit berumur 1-1,5 bulan atau berdaun empat helai siap dipindahtanamkan
 
4.PENGOLAHAN LAHAN

- Bersihkan rumput liar (gulma) dari sekitar kebun

- Olah tanah dengan cangkul ataupun bajak sedalam 30-40 cm hingga gembur

- Buat bedengan selebar 100-120 cm, jarak antar bedengan 40-60 cm, ratakan permukaan bedengan

- Jika pH tanah rendah, tambahkan Dolomit

- Sebarkan pupuk kandang 15-20 ton / ha, campurkan merata dengan tanah.
- Sebarkan pupuk dasar dengan campuran ZA atau Urea 150 kg + TSP 250 kg per ha dicampur dengan tanah secara merata atau sekitar 10 gr campuran pupuk per lubang tanam.

- Jika pakai Mulsa plastic, tutup bedengan pada siang hari

- Biarkan selama seminggu sebelum tanam

- Buat lubang tanam dengan jarak 60x70 cm / 70x70 cm
5.PENANAMAN

- Waktu tanam yang baik musim kering

- Pilih bibit yang tumbuh subur dan normal

- Tanam bibit di lubang tanam secara tegak lalu tanah di sekitar batang dipadatkan

- Siram lubang tanam yang telah ditanami hingga cukup basah (lembab)



6.PENGAIRAN

Dilakukan rutin tiap hari, terutama pada fase awal pertumbuhan dan cuaca kering, dapat di-leb atau disiram dengan gembor



7.PENYULAMAN

- Sulam tanaman yang pertumbuhannya tidak normal, mati atau terserang hama penyakit

- Penyulaman maksimal umur 15 hari



8.PEMASANGAN AJIR

- Lakukan seawal mungkin agar tidak mengganggu (merusak) sistem perakaran

- Turus terbuat dari bilah bambu setinggi 80-100 cm dan lebar 2-4 cm

- Tancapkan secara individu dekat batang

- Ikat batang atau cabang terong pada turus



9.PENYIANGAN

- Rumput liar atau gulma di sekitar tanaman disiangi atau dicabut

- Penyiangan dilakukan pada umur 15 hari dan 60-75 hari setelah tanam



10.PEMUPUKAN

Jenis dan Dosis Pupuk Makro disesuaikan dengan jenis tanah, varietas dan kondisi daerah menurut acuan dinas pertanian setempat. Berikut salah satu alternatif :
Jenis Pupuk
Pemupukan Susulan (kg/ha)
Umur 15 hari
Umur 25 hari
Umur 35 hari
Umur 45 hari
Urea
75
75
75
75
SP-36
50
-
-
-
KCl
-
75
100
75


Pemupukan diletakan sejauh 20 cm dari batang tanaman sebanyak 10 gram campuran pupuk per tanaman secara tugal atau larikan ditutup tanah dan disiram atau pupuk dikocorkan sebanyak 3,5 gram per liter air, kocorkan larutan pupuk sebanyak 250 cc per tanaman



11.PEMANGKASAN ( PEREMPELAN )

-Pangkas tunas-tunas liar yang tumbuh mulai dari ketiak daun pertama hingga bunga pertama juga dirempel untuk merangsang agar tunas-tunas baru dan bunga yang lebih produktif segera tumbuh.


12.PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
Hama yang paling sering menyerang tanaman terong adalah :
1. Kumbang Daun (Epilachna spp.)

Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah

Bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja

Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, pencegahan Insektisida kimia

2. Kutu Daun (Aphis spp.)

Menyerang dengan cara mengisap cairan sel, terutama pada bagian pucuk atau daun-daun masih muda

Daun tidak normal, keriput atau keriting atau menggulung

Sebagai vektor atau perantara virus

Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman,cara pengendalian semprot dengan Akarisida yang berbahan aktif klorfenapir atau abamektin.



3.Tungau ( Tetranynichus spp.)

Serangan hebat musim kemarau.

Menyerang dengan cara mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah.

Cara pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun.



4. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon Hufn.)

Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari

Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda, sehingga terkulai dan roboh

Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan ulat, pencegahan semprot dengan Insektisida
5.Ulat Grayak (Spodoptera litura, F.)

Bersifat polifag.

Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang.

Cara pengendalian; mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman,



6.Ulat Buah ( Helicoverpa armigera Hubn.)

Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang penyakit busuk buah.

Cara pengendalian; kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun,


Sedangkan penyakitnya adalah:

1. Layu Bakteri

Penyebab : bakteri Pseudomonas solanacearum

Bisa hidup lama dalam tanah

Serangan hebat pada temperatur cukup tinggi

Gejala serangan terjadi kelayuan seluruh tanaman secara mendadak



2. Busuk Buah

Penyebab : jamur Phytophthora sp., Phomopsis vexans, Phytium sp.

Gejala serangan adanya bercak-bercak coklat kebasahan pada buah sehingga buah busuk.



3. Bercak Daun

Penyebab : jamur Cercospora sp, Alternaria solani, Botrytis cinerea

Gejala bercak-bercak kelabu-kecoklatan atau hitam pada daun.



4. Antraknose

Penyebab : jamur Gloesporium melongena

Gejala bercak-bercak melekuk dan bulat pada buah lalu membesar berwarna coklat dengan titik-titik hitam



5.Busuk Leher akar

Penyebab ; Sclerotium rolfsii

Gejala pangkal batang membusuk berwarna coklat



6.Rebah Semai

Penyebab : Jamur Rhizoctonia solani dan Pythium spp.

Gejala batang bibit muda kebasah-basahan, mengkerut dan akhirnya roboh dan mati

13.PEMANENAN DAN PASCA PANEN

- Buah pertama dapat dipetik setelah umur 3-4 bulan tergantung dari jenis varietas

- Ciri-ciri buah siap panen adalah ukurannya telah maksimum dan masih muda.

- Waktu yang paling tepat pagi atau sore hari.

- Cara panen buah dipetik bersama tangkainya dengan tangan atau alat yang tajam.

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!