Tampilkan postingan dengan label saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label saudi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Agustus 2014


Ketua Umum Badan Tim Nasional (BTN), Isran Noor tetap optimistis Timnas Indonesia mencuri poin dari Arab Saudi, meski jadwal pemusatan latihan nasional berbenturan dengan jadwal kompetisi.
Selain itu, Isran menyatakan skuat Garuda saat ini dinilai punya kekuatan lebih untuk menghadapi laga kualifikasi Piala Asia 2015 yang dihelat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 23 Maret 2013.
"Kita harus optimistis. Minimal imbang. Malah ada peluang kita dapat poin penuh lawan Arab Saudi nanti," kata Isran Noor kepada Berita Kota (TRIBUNnews.com Network), belum lama ini.
Pria yang menjabat sebagai Bupati Kutai Timur itu juga tidak menyukai istilah "kalah terhormat" seperti yang pernah dikatakan pengurus PSSI ketika menghadapi Irak, bulan lalu. Menurutnya, target tinggi bukan masalah meski pada akhirnya tidak sesuai dengan hasil.
"Tidak ada dalam kamus saya target kalah terhormat. Namanya target, harus lebih tinggi dari kekalahan. Namun, kita juga tidak boleh kecewa kalau hasilnya berbeda," ujarnya.
Hingga kini Isran mengaku belum memutuskan struktur kepengurusan di dalam BTN. Hal tersebut dilakukan sambil berjalan seiring dengan persiapan pelatnas timnas.
"Dalam waktu dekat akan kita rapatkan soal struktur kepengurusan. Tapi hal itu tidak perlu jadi persoalan. Yang penting, bagaimana kita memaksimalkan jadwal latihan untuk persiapan maksimal," kata Isran Noor.


sumber : tribunnews.com

Selasa, 17 Desember 2013


Khamis, 16 Mei 2013 

Polisi Saudi: Pengguna Twitter Rugi Dunia Akhirat
BBC
Tingkat kenaikan pengguna Twitter di Saudi termasuk yang paling cepat.
Ketua polis  agama di Arab Saudi mengecam meningkatnya pengguna media sosial seperti Twitter di negara tersebut. Sheikh Abdul-Latif al-Sheikh mengatakan warga Saudi yang menggunakan Twitter akan merugi baik di dunia maupun di akhirat.

Ini bukan untuk pertama kalinya Al-Sheikh melempar pernyataan soal Twitter. Pada akhir Mac lalu, di hadapan para ulama Saudi ia menyebut Twitter sebagai medium untuk menyebar pesan-pesan yang tidak benar.

Pada hari yang sama imam masjid di Mekah mengatakan warga berhak untuk mengemukakan pendapat, namun harus dilakukan dengan hati-hati untuk melindungi integriti dan kewibawaan negara.

Pernyataan ini dipandang sebagai isyarat kekhuatiran para pegawai Saudi soal pemanfaatan Twitter oleh warga untuk membahas masalah politik, sosial, dan agama yang sensitif.

Di negara-negara Arab, Twitter antara lain dimanfaatkan untuk menggalang dukungan dan mengkoordinasikan gerakan saat terjadi pergolakan politik.

Namun banyak pula pemerintah daerah di kawasan yang memakai Twitter sebagai alat komunikasi dengan publik. Saudi diyakini sebagai salah satu dengan tingkat kenaikan pengguna Twitter yang paling besar di dunia.
Sumber :
BBC Indonesia
Editor :
Egidius Patnistik

Minggu, 01 Desember 2013

Apa rasanya memenggal kepala manusia? Muhammad Saad al-Beshi, seorang eksekutor hukuman qisas mengakui sempat gugup pada saat pertama kali menjalankan tugas yang ia anggap mulia tersebut. Rasa takut bercampur dengan cemas karena disaksikan banyak penonton.

“Tahanan saat itu diikat dan ditutup matanya. Dengan sekali tebas menggunakan pedang, saya memisahkan kepalanya, yang jatuh menggelinding beberapa meter jauhnya,” kenang Beshi tentang pemenggalan pertama yang dilakukannya.


Sebuah balada hidup seorang eksekutor qisas yang terungkap ke publik adalah kisah Muhammad Saad al-Beshi. Di Arab Saudi, nama Beshi cukup terkenal. Maklum saja, pria yang kini berusia sekitar 50 tahun ini merupakan seorang eksekutor handal yang dipekerjakan secara khusus oleh pemerintah Arab Saudi. Beshi, yang direkrut jadi eksekutor sejak 1998, mengaku bangga dengan pekerjaannya itu.

Bukan hal yang menakutkan baginya meski harus menjalankan perintah memenggal kepala para terpidana mati, tak terkecuali wanita. Padahal secara pribadi, al-Beshi merupakan pribadi antikekerasan terhadap perempuan.

“Saya memang menentang kekerasan terhadap perempuan. Namun, jika semua perintah (pemenggalan) datangnya dari Tuhan, saya harus melaksanakannya. Saya bangga bisa melakukan pekerjaan untuk Tuhan,” ujar Beshi seperti dikutip harian Arab News.

Berdasarkan hukum Islam yang berlaku di Arab Saudi, hukuman mati pantas diberlakukan untuk seorang pembunuh, pemerkosa, penyelundup narkoba, perampokan bersenjata dan pengguna narkoba.

Selain diminta memenggal kepala tahanan, tak jarang Beshi juga diminta menembak mati tahanan perempuan. “Semua tergantung permintaan. Kadang mereka menyuruh saya menggunakan pedang, kadang pula dengan senjata api. Namun, seringkali saya memakai pedang,” ujarnya.

Ketika diwawancarai, Beshi bekerja sebagai eksekutor di penjara Taif. Diantara tugasnya di sana, ia harus memborgol dan menutup mata tahanan yang menghadapi hukuman mati. Pernah, dalam sehari ia memenggal 10 kepala terpidana mati.

Betapapun kuat mental Beshi, toh ia mengakui bahwa ketika pertama kali menjadi eksekutor di Jeddah, ia sangat gugup. Pasalnya, banyak orang yang menyaksikan eksekusi itu. Namun, kini Beshi telah mampu mengatasi demam panggung-nya.

Kala itu, banyak saksi yang muntah usai menyaksikan pemenggalan tersebut. Beshi mengaku tidak tahu mengapa mereka ikut menyaksikan eksekusi kalau tak tahan.

Meski menjadi peng-eksekutor kelas wahid di negaranya, Beshi menyebut tak ada orang yang takut pada dirinya. Kehidupannya di masyarakat sama seperti warga awam kebanyakan.

“Saya tetap memiliki banyak saudara dan teman, terutama di masjid. Saya juga memiliki kehidupan normal seperti kebanyakan orang. Tidak ada masalah dengan kehidupan sosial saya,” tegasnya. 
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!